Ada Apa di Jakarta?

Daya Tarik Jakarta

Ada pepatah mengatakan Kejamnya ibu tiri tidak sekejam ibukota. Tetapi kenyataannya penduduk kota Jakarta bertambah tiap tahun. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Sekejam apakah ibukota itu? Hari-hari pertama di Jakarta menyeberang jalan begitu menakutkan bagi saya. Tiba-tiba saja kendaraan sudah di dekat kita. Hal tersebut tidak saya jumpai sewaktu tinggal di Bandung ataupun Medan. Begitu juga ketika menaiki angkot atau bus. Belum sempat kedua kaki masuk ke dalam tetapi busnya sudah melaju kencang sehingga kita sering terkaget-kaget jika tidak sigap. Begitu juga ketika turun, penumpang harus sigap meloncat ketika sopir menurunkan kecepatan busnya. Jangan tunggu bus benar-benar berhenti kalau tidak ingin dibawa terus. Pada jam sibuk yaitu pagi jam 6.30 – 7.30 dan sore jam 17.00 – 18.00 adalah suatu keberuntungan jika anda dapat tempat duduk kosong dalam bus. Di dalam bus itu sendiri para penumpang dengan berbagai profesi mulai dari pegawai kantoran hingga pedagang asongan ditambah pengamen dan penjual rokok terlihat berjejal.

Kehidupan di tempat tinggal juga tidak kalah serunya. Kebanyakan pekerja di berasal dari perantauan hampir dari seluruh pelosok nusantara. Dalam satu rumah anda bisa tinggal dengan gadis Padang penjaga counter hp, bapak satu anak asal Bantul yang bekerja sebagai pengawas lapangan perusahaan kontraktor bangunan, gadis Bandung yang bekerja sebagai staf administrasi sebuah kantor, bapak asal Cilegon yang bekerja sebagai staff logistik sebuah dealer alat berat, gadis Bogor yang bekerja sebagai operator sebuah kantor hingga janda beranak dua yang bekerja sebagai kupu-kupu malam.

Di bawah jembatan layang atau taman-taman kota ada banyak gelandangan tergeletak sementara di di depannya menjulang tinggi bangunan-bangunan perkantoran, pusat perbelanjaan, dan apartemen yang dipenuhi oleh orang-orang kerah putih dan wanita-wanita cantik.

Ada satu peraturan tidak tertulis yang menjadi kesepakatan bersama antara masyarakat Jakarta yang terdiri dari berbagai golongan, kelas, suku dan agama sehingga membuat penduduknya tetap bertahan yaitu: Loe Loe Gue Gue. Sikap individualis tetapi tetap menghargai hak-hak orang lain.

Comments on: "Daya Tarik Jakarta" (3)

  1. janda beranak duanya masih muda gak nih? cantik gak?😛

  2. datang aja ke tempat kost gw, ntar dikenalin..🙂

  3. ayo orang jakarta dekatkan diri dengan gabung

    di http://www.jogjaclub.cjb.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: