Ada Apa di Jakarta?

Archive for the ‘Sehari-hari’ Category

Semangat vs Pesimisme di Indonesia

Pertandingan persahabatan sepakbola antara Timnas Indonesia dan Palestina baru aja selesai. Pertandingan yang dimenangkan Indonesia ini dibuat oleh Hariono, Gonzales, dan Bambang Pamungkas (2 gol) dengan skor akhir 4-1. Permainan Timnas Indonesia lumayan bagus walaupun sedikit terlambat panas. Tapi gue di sini bukan mau ngebahas pertandingan barusan, itu cuma merupakan sebagian dari yang mau gue bahas di sini.

Kita semua tau kalo menyangkut sepakbola, mayoritas rakyat Indonesia akan betah untuk nonton atau bahkan cuma untuk ngobrolin. Apalagi kalo yang dibahas adalah Timnas Indonesia, udah pasti semangat seluruh rakyat akan berkobar-kobar untuk mendukung. Bisa diliat barusan, timeline gue isinya tentang pertandingan persahabatan itu semua… seru lah pokoknya.

Masih anget juga di ingatan kita mengenai AFF Cup kemarin, semua orang berbondong-bondong nonton di Stadion Gelora Bung Karno. Yang dulunya sepakbola cuma jadi dunianya cowok, sekarang banyak cewek-cewek cantik berkeliaran di Stadion Gelora Bung Karno untuk bisa ngeliat tim kesayangannya. Tiketpun ludes, bahkan banyak yang rela antri berjam-jam cuma untuk bisa dapetin tiket. Gak ketinggalan dengan merchandise, jersey dan segala atribut Timnas Indonesia banyak dicari, baik yang original maupun yang abal-abal. Semua orang seakan pengen nunjukkin bahwa mereka bangga make jersey dengan lambang Garuda di dadanya untuk ngedukung timnas kesayangan mereka.

Gak cuma sepakbola, olahraga favorit lainnya di Indonesia yaitu bulutangkis juga sering menjadi moment bagi masyarakat untuk menunjukkan rasa nasionalisme mereka.

Bersamaan dengan itu, belakangan ini banyak bermunculan lagu-lagu bertemakan nasionalisme. Dulu kita cuma tau “Bendera” nya Cokelat, sekarang udah banyak muncul yang lainnya, ada Netral, PeeWee Gaskin, dan musisi-musisi muda lainnya. Tau Pandji kan? Pandji yang emang udah dikenal dengan personal brandingnya yang mengusung Nasionalisme, bahkan gak cuma nulis lagu tentang Indonesia aja, melainkan juga membuat buku bertemakan sama. Dan itu semua laku sebagai bahan jualan.

Lagu-lagu tersebut berkumandang tidak hanya di stadion saat dukungan kepada timnas berkobar, tetapi juga di panggung-panggung musik di mana-mana. Festival musik Java Rockin’land dan Soulnation yang gue tau pertama kali mengumandangkan Indonesia Raya sebelum artis utamanya tampil.

Itu semua di atas menggambarkan betapa semangat nasionalisme tidak pernah pudar, khususnya bagi anak muda karena emang event-event di atas biasanya dipadati oleh kaum muda. Di tengah gaya hidup hedonisme dan gejala konsumerisme di kalangan anak muda, event-event tersebut bisa menjadi momen untuk mengobarkan semangat nasionalisme.

Ada juga satu website bernama Good News From Indonesia yang memberitakan semua hal-hal baik yang ada di Indonesia. Semangatnya bisa diliat di salah satu halamannya.. Good News From Indonesia is committed to compiling and sharing only good news from many different sources because we appreciate positiveness and optimism; and especially from Indonesia because we believe our country has a lot of good things to offer. And it is also our intent to show the world of the brighter side of Indonesia so that they can see and understand us in the best possible way”.

Berbeda dengan cerita menyenangkan di atas, bapak-bapak di atas sana selama ini memberikan suatu tontonan yang gak menarik dan membosankan. Isu korupsi yang gak ada abisnya, politik yang semakin menjijikkan, sampai urusan lain yang semakin memberikan rasa pesimis dan skeptis terhadap negara kita menjadikannya sebuah virus yang cepat menyebar dan merasuki semua orang. Anehnya isu-isu tersebut malah dijadiin suatu komoditi oleh media sehingga menjadikannya suatu tontonan layaknya sinetron lengkap dengan storyboard dan sutradaranya. Bayangin aja sinetron yang udah gak layak tonton itu masih ditambah dengan berita-berita menjijikkan.

Dua kutub yang berbeda dengan aktifitas yang bertolak belakang ini gak bisa dipungkiri emang sedang terjadi, kita gak bisa menyangkalnya. Yang bisa kita lakukan adalah memilah-milah mana yang baik bagi kita, mana yang perlu kita baca dan liat, dan mana yang harus kita buang jauh-jauh. Kita juga bisa memilih akan terus bersifat pesimis dan skeptis atau berusaha menularkan semangat untuk maju kepada teman, keluarga, dan orang lain di sekitar kita.

Percayalah, kita bisa menjadi bangsa yang tangguh dan maju kalo tetap semangat dan menyingkirkan sikap pesimis.

Iklan

Dirgahayu 484 Jakarta

Dirgahayu 484 Jakarta

Semoga diumurnya yang ke-484 ini, banyak kemajuan untuk Kota Jakarta demi kenyamanan kita semua.

NatGeo-Megacities: Jakarta

Buat yang gak sempet nonton National Geographic-Megacities: Jakarta, bisa liat di youtube http://bit.ly/gFhrr9

Kayaknya semua masyarakat Jakarta perlu nonton ini. Selain nambah info tentang perkembangan kota, bisa tau juga apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah dan semua pihak yang terkait dalam memajukan dan mengatasi masalah di Jakarta.

Warteg akan kena Pajak

Beberapa waktu denger kabar kalo warteg di Jakarta akan dikenakan pajak oleh Pemprov DKI Jakarta. Langsung aja di kepala gue terlintas… pasti akan banyak pro-kontra mengenai hal ini… banyakan kontra nya gue yakin… hehehe…

Gue sendiri sebagai orang awan yang gak terlalu ngerti ekonomi apalagi pajak-pajakan termasuk yang kontra akan usulan tsb. Kenapa gue gak setuju?

  1. Warteg biasanya dimiliki oleh masyarakat yang keadaan ekonominya kurang mampu atau kelas menengah ke bawah lah sebutannya. Nah bukankah masyarakat yang kurang mampu tsb wajar mendapatkan subsidi? atau dibalik… bukankah subsidi memang seharusnya ditujukan kepada masyarakat yang kurang mampu?
  2. Sekalipun usulan tsb tetap dijalankan, apakah pendapatan dari pajak tsb akan dirasakan (secara langsung) oleh para pemilik warteg? lha wong pendapatan dari pajak yang sekarang aja gak jelas kok… gak transparan.
  3. Konsumen dari warteg kebanyakan juga masyarakat kelas menengah ke bawah, seperti kuli bangunan, pedagang kaki lima, dll. Menurut gue nilai akumulasi pajak tsb cukup bernilai bagi mereka.
  4. Bukankah lebih baik kalo nilai dari akumulasi pajak tsb dibelanjakan kembali oleh pemilik warteg untuk belanja di hari berikutnya atau untuk belanja kebutuhan mereka sehari-hari? bukankah itu akan cukup membantu berputarnya roda perekonomian?

Itulah alasan-alasan kenapa gue gak setuju atas usulan pengenaan pajak bagi warteg di DKI Jakarta;)

Hidup itu Pilihan

Pilihan.. Itulah hidup. Dari kecil kita sudah diharuskan untuk memilih. Milih maenan waktu diajak jalan2 sama nyokap, milih jurusan waktu SMA, milih istri, milih pekerjaan… Semua keputusan kita harus diambil dengan memilih. Dengan keputusan itu kita juga harus menjalani pilihan kita apapun konsekuensinya.

Di era globalisasi ini, kita dijejali segala macam informasi… Mulai dari yang penting sampe hiburan… Mulai dalam bentuk tayangan TV sampe Internet dan mobile. Disinilah kita harus pintar-pintar memilih… Apakah kita akan terima begitu aja informasi-informasi yang disuguhkan kepada kita, atau kita filter sendiri menurut kebutuhan dan keinginan kita?

Dari segitu banyak pilihan, kayaknya yang paling populer di mata masyarakat Indonesia adalah informasi-informasi yang gak penting, seperti tayangan sinetron dan infotainment. Kenapa tayangan seperti itu sangat populer? Dengan rating yang tinggi pula. Alasan yang paling banyak adalah karena tayangan tersebut berada pada primetime dan kebanyakan mereka hanya punya waktu pada saat tersebut, jadi mau gak mau ya nonton itu karena gak ada tayangan lain. Yang berlangganan pay TV lebih punya keleluasaan untuk memilih, tapi apakah yang lain boleh beralasan kalo mereka nonton sonetron dan infotainment karena mereka gak langganan pay TV… Gak punya pilihan lain? No way! Itu bukan alasan. Masih ada kok tayangan yang lebih berbobot daripada sinetron dan infotainment walaupun sedikit. Atau mungkin bisa juga melakukan aktifitas lain selain nonton TV, internet-an mungkin? Main console game juga bisa. Kalo masih beralasan gak langganan internet atau gak punya console game, tetep masih banyak pilihan lainnya kok… Baca koran kek, majalah kek, atau apa kek. Jadi menurut gue tetep masih ada pilihan.

Gue pernah nanya ke salah satu temen gue yang berprofesi sebagai sutradara sinetron… Kenapa sinetron di Indonesia ceritanya gak berbobot? Gak mendidik? Suka lebay? Jawaban dia sederhana… Karena masyarakat Indonesia seperti hidup dalam mimpi, mereka memimpikan yang ada di sinetron… Bisa ketemu pacar ganteng/ cantik, nasibnya bisa berubah dari miskin tau-tau jadi anak orang kaya, bisa tiba-tiba terkenal, dll. Di situ keliatan sifat sebagian besar masyarakat yang menginginkan sesuatu serba instant, gak pake usaha atau bisa dibilang.. MALES!

Dipikir-pikir lagi deh mulai sekarang, kita mau jadi kayak apa sih? Ditengah-tengah carut-marutnya keadaan negara kita, apakah kita masih mau nambahin dengan pembodohan-pembodohan seperti ini? Mulai lah dari yang paling sederhana, pilih aktifitas yang lebih baik daripada nonton sinetron dan infotainment. Kita stop pembodohan ini sama-sama. Kalo yang nonton makin berkurang nanti kan ratingnya turun, kalo rating gak bagus kan gak ada yang mau pasang iklan, kalo gak ada iklan kan gak ada uang untuk membiayai produksi sinetron dan infotainment tersebut. Dan pekerja-pekerja industri TV tersebut bisa memilih untuk berkreasi membuat program lain yang lebih baik. Karena gue yakin kok, pekerja-pekerja TV tersebut bukan orang bodoh dan gak kreatif, mereka bisa berkreasi lebih baik.

Jadi jangan tunggu pemerintah membuat kebijakan yang baik, jangan mengharapkan pekerja TV membuat suatu program yang bagus, tapi kita mulai dulu memilih yang baik untuk kita sendiri… Karena hidup itu adalah pilihan. Akankah kita teruskan gaya hidup kita dengan nonton tayangan yang gak berguna itu atau mulai melakukan perubahan?
Stop nonton sinetron! Stop nonton infotainment! Stop pembodohan!

Ruang Terbuka Hijau vs Mental Manusia Jakarta

Karena tinggal di Jakarta Selatan dan sering lewatin daerah Pondok Indah (Pinang Emas, Kartika Utama, dan sekitarnya), gue sering liat anak-anak sampe bapak-bapak yang tinggal gak jauh dari situ main bola di ‘lapangan’. Beruntungnya mereka.. mengingat sebenernya lapangan itu bukan lapangan bola ato lapangan olahraga melainkan cuma tanah kosong yang belum dibangun di atasnya oleh sang empunya.

Kebalikan dari di sekitar Pondok Indah, gue juga sering liat anak-anak main bola di jalanan sebelah pintu gerbang utama Ancol Taman Impian. Sebenernya jalanan itu juga pintu gerbang untuk masuk kendaraan besar seperti bis. Biasanya mereka main di akhir minggu. Emang sih mereka mainnya malem, jadi gak akan ganggu akses masuk Ancol… tapi tetep aja itu jalanan, bukan lapangan bola.

Dari 2 contoh di atas, keliatan banget masih kurangnya ruang/ fasilitas umum untuk masyarakat Jakarta.

Di tahun 2009 ini, gue ngeliat Foke cukup peduli dan konsisten akan hal ini. Ini bisa diliat dari pengembalian peruntukan ruang terbuka hijau di beberapa area di Jakarta. Misalnya perombakan pasar ikan dan bunga di Barito menjadi Taman Ayodya dan pembongkaran beberapa SPBU menjadi taman umum. Kalo konsistensi ini dipertahankan, kayaknya cukup lah ruang/ area untuk publik… jadi gak perlu lagi deh tuh anak-anak seliweran di jalanan cuma untuk main lari-larian.

Sekali waktu di malem hari, gue pernah pulang kantor di akhir pekan nge-lewatin taman Ayodya di Barito, banyak banget orang ngumpul di sana. Ada yang ngumpul ama temen-temennya dan gak sedikit juga yang pacaran. Pernah juga pagi-pagi banget lewat sana di hari Minggu, banyak juga yang ngumpul di sana untuk olahraga, jogging, ato cuma sekedar jalan-jalan ama keluarga. Ini kan berarti taman tersebut terutilisasi dengan baik… memberikan manfaat bagi orang banyak selain sebagai paru-paru kota.

Nah, masalah timbul ketika konsistensi PemProv tersebut tidak diimbangi dengan tindakan dan kelakuan masyarakat Jakarta yang menurut gue masih sangat asal dan gak pedulian.

Gue pernah liat, keadaan Taman Ayodya (siangan dikit di hari Minggu, pas sudah sepian) kotor banget penuh sampah. Rupanya abis beraktifitas sambil jajan-jajan di sana… orang-orang pada nyampah seenaknya, seakan-akan gak peduli ama tempat tersebut. Mungkin mereka mikir… ahh PemProv DKI Jakarta punya Dinas Kebersihan ini. Bener sih, emang selalu ada yang bersihin semua sampah di sana, tapi kok bisa ya punya kelakuan kayak gitu? Gue yakin sudah disediain tempat sampah di sana.  Apa mereka gak mikir tempat itu akan mereka datengin lagi sama keluarga dan temen-temen mereka besoknya, minggu depannya, ato taun depannya. Apa mereka gak pengen taman itu bersih waktu anaknya lari-larian bertelanjang kaki di rumput? Apa mereka gak pengen, taman itu nyaman rumputnya untuk didudukin sambil pacaran?

Ayolah… Pemerintah sudah memberikan fasilitas umum yang cukup baik… gratis pula, gak ada salahnya kan peduli sedikit aja… toh yang menikmati fasilitas itu kita-kita juga. Buang dong bekas-bekas bungkus makanan dan botol minuman plastik itu di tempat sampah, buang dong koran bekas alas pacarannya di tempat sampah, gue yakin taman-taman itu akan lebih terawat dan lebih nyaman untuk kita semua.

Jangan bisanya cuma nuntut mulu, ngeluh mulu, protes mulu ama Pemerintah kalo kurang ini-itu… tapi dari masing-masing individu juga harus memberikan kontribusi kepada Jakarta. Kalo dari kedua pihak menjalankan kewajibannya masing-masing dan peduli satu sama lain, gue yakin Jakarta akan menjadi tempat yang gak kalah nyamannya dengan kota-kota lain.

Belok Kiri tidak boleh Langsung

Awal November besok akan ada peraturan lalu-lintas baru… belok kiri gak boleh langsung. Setelah bertahun-tahun pengendara kendaraan bermotor dimanjakan dengan peraturan belok kiri boleh langsung (belkibolang), sekarang mau ada peraturan baru yang sama sekali bertolak belakang dengan denda Rp. 250,000 bagi yang melanggarnya.

Tujuan peraturan ini adalah mementingkan pejalan kaki yang ingin menyebrang. Menurut gue sih peraturan ini bagus karena selama ini pejalan kaki yang mau nyebrang agak-agak bingung, dia harus nunggu lampu merah supaya kendaraan berhenti dan dia bisa nyebrang dengan aman tapi ternyata tetep banyak kendaraan yang lewat… ini dikarenakan ada peraturan belkibolang. Nah gimana caranya mau nyebrang kalo lalu-lintas lagi ramai?

Untuk peraturan baru ini kabarnya akan ada sosialisasi dulu selama 6 bulan, jadi kalo yang kelupaan karena kebiasaan belkibolang untuk 6 bulan ke depan belom kena denda.

Mudah-mudahan peraturan lalu-lintas baru ini bisa menjadikan Jakarta lebih tertib dan nyaman 😉

Awan Tag